iklan ditengah

Tampilkan postingan dengan label prilaku ornganisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prilaku ornganisasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2020

Makalah Dasar - dasar prilaku kelompok

MAKALAH
PERILAKU  ORGANISASI
“Dasar-Dasar Perilaku Kelompok”


KATA PENGANTAR
Atas limpahan rahmat dan karunia Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta inayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Dasar Dari Perilaku Kelompok. Makalah ini kami susun untuk melengkapi tugas mata kuliah Perilaku Organisasi dengan Dosen pengampu Dr. Lili Karmela Fitriani S.E., M.Si. Dalam menyajikan Makalah ini kami sengaja menjelaskan secara praktis dan pokok-pokonya saja, namun demikian pembahasannya diusahakan cukup mendalam.
Kami menyadari bahawa Makalah ini masih terdapat kekurangan. Seiring perkembangan zaman globalisasi ini. Seperti pepatah using “Tiada gading yang tak retak”, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami terima.
Harapan kami, kiranya Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pihak-pihak turut serta dalam mendukung pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat. AMIN.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kelompok adalah dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung,yang datang bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Orang-orang membentuk kelompok  karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri . Maka dari itu kelompok sosial berfungsi untuk berinteraksi satu sama lain. Kelompok dibagi menjadi dua  yaitu kelompok formal dan informal. Kelompok Formal adalah kelompok kerja yang terstruktur atau diatur oleh aturan-aturan sedangkan kelompok informal adalah kelompok yang tidak ditetapkan strukturnya secara formal.

1.2 Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian kelompok?
  2. Apa perbedaan kelompok formal dan informal?
  3. Mengapa orang-orang membentuk kelompok?
  4. Sebutkan tahap-tahap dalam pengembangan kelompok
  5. Sebutkan properti kelompok

1.3 Tujuan Masalah
  1. Memahami apa yang dimaksud dengan kelompok
  2. Bisa membedakan antara kelompok formal dan informal
  3. Memahami tahap-tahap dalam mengembangkan kelompok
BAB II
PEMBAHASAN

Dasar Dari Perilaku Kelompok
2.1. Mendefinisikan dan mengklasifikasikan kelompok
Kelompok adalah sebagai dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang datang bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelompok dapat bersifat formal atau informal. Sebuah kelompok formal, didefinisikan melalui keberadaan struktur organisasi, dengan penugasan kerja yang ditetapkan untuk menentukan tugas-tugas. Dalam kelompok formal, perilaku anggota tim yang terlibat akan ditetapkan oleh dan diarahkan menuju tujuan-tujuan organisasi. Enam anggota awak pesawat maskapai penerbangan adalah kelompok formal. Sebaliknya, kelompok informal adalah yang tidak ditetapkan struktur secara formal atau tidak ditentukan secara organisasional. Kelompok-kelompok informal adalah susunan yang terbentuk secara alamiahdalam lingkungan kerja yang Nampak sebagai tanggapan atas kebutuhan kontak sosial. Tiga karyawan dari departemen berbeda yang secara teratur makan siang atau minum kopi bersamaa adalah kelompok informal. Tipe interaksi diantara para individu ini, meskipun informal tetapi secara mendalam memengaruhi perilaku dan kinerja mereka.
Teori identitas social (social indentity theory) yaitu sudut pandang yang mempertimbangkan ketika dan kapan para individu mempertimbangkan para anggota kelompoknya sendiri. Teori identitas social mengusulkan bahwa orang-orang memiliki reaksi emosional pada kegagalan atau keberhasilan dari kelompok mereka karena penghargaan diri terikat ke dalam kinerja kelompok. Ketika kelompok anda melakukan dengan baik, sikap anda akan mencerminkan kefembiraan kemenangan, dan harga diri anda sendiri akan meningkat. Ketika kelompok anda melakukan dengan buruk, anda akan merasa kesal dengan diri anda sendiri, atau bahkan mungkin anda akan menolak bagian tersebut dari identitas anda. Identitas social bahkan dapat mengarahkan orang-orang untuk mengalami kesenangan setelah melihat kelompok lainnya menderita. Kita sering kali melihat perasaan atas penderitaan orang ini saat para fan yang bergembira karena ti yang dibenci kalah.
Orang-orang mengembangkan banyak identitas melalui perjalanan hidup mereka. Anda akan mendefinisikan anda sendiri sesuai dengan organisasi tempat anda bekerja, kota tempat tinggal, profesi, latar belakang agama, etnis, dan jenis kelamin anda. Sebagai contoh seorang veteran perang AS yang bekerja di Roma akan sangat waspada karena berasal dari Amerika Serikat, tetapi identitas nasional ini tidsk akan mengkhawatirkan ketika hanya ia berpindah dari Tulsa menuju ke Tucson (kota di Negara bagiaan AS).
            Identitas social membantu kita memahami siapa kita dan dimana kita cocok dengan orang lain, tetapi identitas sosial dapat memiliki sifat negative pula. Diatas perasaan penderitaan orang, favoritisme dalam kelompok (ingroup favoritism) terjadi ketika kita melihat para anggota dari dalam kelompok kita lebih baik daripada orang lain dan orang-orang yang bukan berasal dari dalam kelompok semuanya sama saja. Hal ini tentu merupakan Stereotip.
Kapan orang-orang akan mengembangkan identitas sosial? Beberapa karakteristik yang membuat identitas social menjadi penting bagi seseorang:
  1. Kesamaan. Tidak mengejutkan, orang-orang yang memiliki nilai atau karakteristik yang sama sebagaimana para anggota lainnya dari organisasi mereka memiliki level identifikasi kelompok yang lebih tinggi.
  2. Keunikan. Orang-orang yang lebih cenderung memerhatikan identitas yang memperlihatkan bagaimana mereka berbeda dari kelompok lainnya.
  3. Status. Oleh karena orang-orang menggunakan identitas untuk memdefinisikan diri mereka sendiri dan meningkatkan penghargaan diri, sehingga masuk akal bahwa mereka tertarik dalam mengaitkan diri mereka sendiri dengan kelompok yang memiliki status tinggi.
  4. Penurunan yang tidak pasti. Keanggotaan dalam sebuah kelompok juga membantu beberapa orang memahami siapa mereka dan bagaimana mereka menyesuaikan diri ke dalam dunia.

2.2 Tahap-tahap dalam pengembangan kelompok
Model lima tahap pengembangabn kelompok (five-stage group development), mencirikan kelompok yang berjalan melalui tahapan yang unik, yaitu membentuk, mempeributkan, menyusun norma, bekerja, dan membubarkan.
  1. Tahap pertama, tahap membentuk (forming stage), digolongjkan sebagai sejumlah besar ketidakpastian mengenai tujuan, struktur, dan kepemimpinan kelompok. Para anggota “menguji keadaan” untuk menentukan tipe perilaku apa yang dapat diterima. Tahap ini akan selesai ketika para anggota mulai berpikir bahwa dirinya sendiri sebagai bagian dari sebuah kelompok.
  2. Tahap mempeributkan (storming stage) adalah salah satu konflik intrakelompok. Para anggota menerima keberadaan kelompok tetapi menentang hambatana yang melaksanakan pada individualitas. Terdapat konflik tentang siapa yang akan mengendalikan  kelompok. Ketika tahap ini selesai, akan terdapat suatu hirearki kepemimpinan yang relative jelas di dalam kelompok.
  3. Pada tahap ketiga, hubungan yang dekat akan berkembang dan kelompok akan menunjukan kekompakan. Sekarang terdapat rasa identitas kelompok yang kuat dan persahabatan. Tahap menyusun normal (norming stage) ini selesai ketika struktur kelompok mengeras dan kelompok telah berasimilasi serangkaian ekspektasi umum mengenai apa yang mendefinisikan perilaku anggota yang benar.
  4. Tahap keempat adalah mengerjakan (performing). Struktur pada poin ini sepenuhnya fungsional dan diterima. Ebergi kelompok telah berpindah dari mengenal dan memahami satu sama lain hingga mengerjakan tugas yang ada.
  5. Tahap membubarkan (adjourning stage) adalah untuk mengakhiri kegiatan dan mempersiapkan diri untuk pembubaran. Beberapa anggota kelompok optimis, bersenang-senang atas pencapaian kelompok. Anggota lainnya lebih tertekan karena kehilangan persahabatan dan pertemanan yang didapat selama kelangsungan kerja kelompok.
  • Pertemuan pertama mereka menetapkan arah kelompok
  • Fase pertama aktivitas kelompok adalah salah satu dari inersia
  • Suatu transisi terjadi tepat ketika kelompok telah terpakai setengah dari waktu yang telah ditetapkan
  • Transisi ini memprakarsai perubahan besar
  • Fase kedua dari inersia mengikuti transisi, dan
  • Pertemuan terakhir kelompok dicirikan oleh aktivitas yang diakselerasikan. Pola ini, dinamakan model kesetimbangan-berselang (punctuated equilibrium model).
 Pertemuan pertama menetapkan arah kelompok, kemudian suatu kerangka kerja atas pola perilaku dan asumsi-asumsi yang ada di kelompok dalam mencapai proyek yang muncul, kadang kala dalam beberapa detik pertama dari keberadaan kelompok. Ketika ditetapkan, arah kelompok menguat dan tidak mungkin di evaluasi kembali selama setengah pertama perjalanan. Ini merupakan periode kelambanan-kelompok cenderung untuk tetap bertahan atau menjadi terkunci dalam suatu rangkaian tindakan yang tetap bahkan jika hal ini memperoleh wawasan baru yang menantang pola dan asumsi awal.
Salah satu dari temuan yang sangat menarik dalam kajian mengenai kerja tim adalah bahwa kelompok-kelompok yang mengalami transisi mereka persis tepat pada pertengahan jalan antara pertemuan pertama dengan tenggat waktu resmi apakah para anggota menghabiskan jam pada proyek mereka atau 6 bulan. Titik tengah terlihat seperti sebuah alarm jam dinding, kesadaran para anggota yang memuncak bahwa waktu mereka terbatas dan mereka perlu untuk bergerak. Transisi ini mengakhiri fase 1 dan dicirikan dengan ledakan perubahan yang terkonsentrasi, menjatuhkan pola-pola lama, dan mengadopsi sudut pandang yang baru. Transisi menetapkan arahan yang direvisi untuk fase 2, suatu kesetimbangan yang baru atau periode inersia yang mana kelompok menjalankan rencana yang diciptakan selama periode transisi.
Pertemuan terakhir kelompok dicirikan dengan lonjakan aktivitas terakhir untuk menyelesaikan pekerjaannya. Secara ringkas, model yang diselingi kesetimbangan mencirikan kelompok yang menunjukan periode kelambanan yang lama yang diselingi dengan perubahan revolusioner yang ringkas yang dipicu terutama oleh kesadaran para anggota atas waktu dan tenggat waktu. Perlu diingat, bahwa model ini tidak dapat diterapkan pada semua kelompok tetapi disesuaikan dengan kualitas yang terbatas atas kelompok tugas yang bersifat sementara yang bekerja dibawah tenggat waktu.

2.3  Properti Kelompok : Peranan,Norma,Status,Besaran,Kekompakan dan Keragaman
  1. Properti  Kelompok 1 :  Peran
  • Peran (role)
Peran (Role) merupakan suatu rangkaian pola perilaku yang diharapkan yang dikaitkan dengan sesesorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial.
  • Persepsi Peran ( role perception)
Merupakan suatu sudut pandang individu mengenai bagaiamana dia seharusnya bertindak dalam suatu situasi tertentu.
  • Ekspetasi Peran (role expectation)
Adalah cara orang lain meyakini anda bertindak dalam suatu konteks tertentu. Di tempat kerja,kita melihat ekspestasi  peran melalui perspektif kontrak psikologis,yaitu sebuah perjanjian yang tidak tertulis yang mengemukakan apa yang manajemen harapkan dari karyawan dan sebaliknya.
  • Konflik Peran (role conflict)
Adalah situasi dimana individu dihadapkan oleh ekspektasi peran yang berbeda-beda.
  2. Properti Kelompok 2 : Norma
  • Norma,seluruh kaidah dan peraturan yang diterapkan melalui lingkungan sosialnya.
  • Kepatuhan (conformity
Adalah penyesuaian perilaku seseorang agar sejalan dengan norma kelompok. Contoh : sebagai seorang anggota dari suatu kelompok anda menginginkan penerimaan oleh kelompok.Dengan demikian,anda rentan dengan kepatuhan pada norma-norma kelompok.
  • Perilaku menyimpang di tempat kerja(deviant workplace behavior)
Merupakan perilaku bersifat sukarela yang melanggar norma organisasi secara signifikan dan dengan demikian dapat mengancam kesejahteraan organisasi atau para anggotanya.

  3.  Properti Kelompok 3 : Status
  • Status
Merupakan suatu posisi yang didefinisikan secara sosial atau peringkat yang diberikan kepada kelompok atau para anggota kelompok oleh orang lain.
  • Menurut teori karakteristik status yang menentukan Status adalah sebagai berikut:
-          Kekuasaan seseorang yang dimiliki atas orang lain,mereka cenderung mengendalikan sumber daya kelompok,maka orang-orang yang mengendalikan hasil cenderung sebagai penyandang status yang yang tinggi.
-          Kemampuan seseorang untuk memberikan kontribusi bagi tujuan kelompok. Orang-orang yang memiliki kontribusi yang sangat penting bagi kesuksesan kelompok cenderung memiliki status yang tinggi.
-          Karakteristik pribadi individu,seseorang yang memiliki karakteristik pribadi akan dinilai secara positif oleh kelompok. Misalnya dilihat dari penampilan yang bagus,cerdas,uang atau kepribadian yang ramah biasanya memiliki status yang lebih tinggi daripada seseorang dengan atribut nilai yang lebih sedikit.
  • Status Dan Norma
Status memiliki efek yang lebih menarik pada kekuasaan norma dan tekanan untuk mematuhi. Para individu yang memiliki status yang tinggi sering kali diberikan lebih banyak kebebasan menyimpang dari norma daripada para anggota kelompok lain.  Contoh : Para dokter secara aktif menolak keputusan administratif yang dibuat oleh karyawan di perusahaan asuransi yang memiliki peringkat lebih rendah.
  • Status dan Interaksi Kelompok
Orang-orang yang memiliki status yang tinggi cenderung menjadi anggota kelompok yang lebih sombong,mereka lebih sering berbicara dengan bebas,lebih banyak mengkritik,lebih banyak perintah dan lebih sering menginterupsi anggota lain.
  • Ketidakadilan status
Hal yang dianggap sebagai ketidakadilan akan menciptakan ketidakseimbangan yang mana menginspirasi bermacam-macam tipe perilaku korektif.
  4. Properti Kelompok 4 : Besaran
Salah satu dari temuan yang paling penting mengenai besaran kelompok dengan memperhatikan kemalasan sosial,kecenderungan bagi para individu untuk mengeluarkan sedikit upaya ketika bekerja secara kolektif darpada secara sendiri. Hal ini secara langsung menantang asumsi bahwa produktivitas kelompok sebagai suatu keseluruhan sedikitnya sama dengan jumlaj produktivitas para individu yang berada di dalamnya

  5. Properti Kelompok 5 : Kekompakan
  • Kekompakan (Cohesiveness)
Keadaan yang mana para anggota kelompok tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap bertahan dalam kelompok.
6.      Properti Kelopok 6 : Keragaman
Property terakhir dari kelompok yang kita pertimbangkan adalah keragaman di dalam keanggotaan kelompok, atau keaadaan yang mana para anggota kelompok sama dengan anggota berbeda dari, satu sama lain. Sejumlah bersar riset dilakukan mengenai bagaimana keragaman memenuhi kinerja kelompok. Beberapa riset melihat pada rasial, gender, perbedaan perbedaan lainnya. Secara keseluruhan, study mengidentifikasikan biaya maupun manfaat dari keragaman kelompok.
Salah satu kajian membandingkan kelompok yang beragam secara budaya ( terdiri atas orang-orang dari Negara-negara berbeda) dan homogeny terdiri atas orang-orang dari Negara yang sama. Kelompok- kelompok ini melakukan dengan sangat adil, tetapi para anggota dari kelompok yang beragam kurang terpuaskan dengan kelompok – kelompok mereka, kurang kompak, dan memikiki lebih banyak konflik. Kajian lainya meneliti pengaruh dari perbedaan dalam masa jabatan kinerja, riset rekayasa tehnik dan pengembangan kelompok. Ketika sebagian besar orang kurang lebih memiliki tinggkat masa jabatan yang sama, maka kinerja akan tinggi, tetapi masa jabatan keragaman yang semakin meningkat, maka kinerja akan turun.level masa jabatan yang lebih tinggi tidak terkait dengan kinerja kelompok yang lebih rendah ketika mendapat praktik sumber daya manusia yang berorientasi pada tim yang efektif. Tim yang memiliki nilai dan opini di para anggota yang berbeda akan cenderung akan mengalami banyaknya konflik.
Secara kultural dan demografis kelompok yang beragam dapat melakukan dengan lebih baik dari waktu ke waktu, dalam karakteristik yang dapatdiamati misalnya asal Negara, ras, gender, memperingatkan orang atas kemungkinan kemungkinnan level keragaman yang mendalam yang mendasari tingkah laku, nilai dan opini.
Salah satu studi mengenai prilaku menemukan bahwa para hakim yang beragam lebih cenderung untuk berunding lebih lama, berbagi lebih banyak informasi dan membuat sedikit kesalahan factual ketika membahas bukti. Dua studi yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa MBA menemukan bahwa tanpa level keragaman mengarahkan pada membukaan yang lebih besar bahkan tanpa level kegunaan yang mendalam.
  • Lini Kesalahan
Lini kesalahan atau divisi yang dipandang membagi kelompok – kelompok menjadi dua atau lebih subkelompok yang didasarkan pada perbedaan individual misalnya jenis, kelamin, ras, umur, pengalaman kerja, dan pendidikan.
Riset dalam lini kesalahan telah menunjukan bahwa membagi pada umumnya merugikan bagi fungsional dan kinerja kelompok. Subkelompok dapat menyelesaikan persaingan satu sama lain, yang mana menghabiskan waktu dari tugas pokok dan membahayakan kinerja kelompok. Kelompok – kelompok yang memiliki subkelompok lebih lamban dalam mempelajari, mengambil keputusan yang lebih beresik, kurang kreatif dan mengalami lefel konflik yang lebih tinggi. Subkelompok cenderung kurang untuk mempercayai satu sama lain.
Studi lain memp-erhatikan bahwa permasalahan – permasalahan yang berasal dari lini kesalahan yang kuat yang didasarkan pada gender dan pendidikan utama akan diadakan ketika peranan-peranan mereka adalah jalan pintas dan kelompok sebagai suatu keseluruhan yang diberikan tujuan umum untuk mengupayakannya. Strategi tersebut memaksa kolaborasi antara para anggota subkelompok dan menitikberatkan upaya mereka para pencapaian tujuan yang melampaui batasan yang dipaksakan oleh lini kesalahan.
Riset mengenai lini kesalahan menyarankan bahwa keragaman dalam kelompok merupakan pedang permata dua, riset terbaru mengidentifikasikan bahwa mereka dapat secara strategis di pekerjaan unrtuk meningkatkan kinerja.
2.4  Pengambilan Keputusan Kelompok
  1. Kelompok Versus Individu
Kekuatan Pengambilan Keputusan Kelompok. Kelompok dapat menghasilkan informasi dan pengetahuan yang lebih lengkap. Dengan menggabungkan sumber daya dari beberapa individu, maka kelompok akan membawa lebih banyak input serta heterogenitas e dalam proses keputusan. Hal ini akan membuka peluang untuk mempertimbangan lebih banyak pendekatan dan alternatif. Terakhir, kelompok mengarah pada meningkatnya penerimaan suatu solusi.
Kelemahan Pengambilan Keputusan Kelompok. Keputusan kelompok menghabiskan waktu karena kelompok-kelompok umumnya memerlukan lebih banyak waktu untuk mencapai suatu solusi. Terdapat kepatuhan tekanan. Pembahasan kelompok dapat didominasi oleh salah satu atau beberapa anggota. Jika para anggotanya hanya berkemampuan rendah dan medium, maka keseluruhan menjadi kurang efektif. Terakhir, keputusan kelompok yang lemah akan menimbulkan tanggung jawab yang ambigu.
Efektivitas dan Efisiensi. Pengambilan keputusan kelompok memerlukan lebih banyak jam kerja daripada individu yang menyelesaikan permasalahan yang sama sendirian. Pengambil keputusan individu harus menghabiskan sejumlah besar waktu untuk melakukan tinjauan atas data-data dan berbicara pada orang lain. Dalam memutuskan apakah menggunakan kelompok, kemudian, para manajer harus menilai apakah peningkatan dalam efektivitas jauh lebih banyak dari cukup untuk mengimbangi penurunan dalam efisiensi.
  1. Pemikiran Kelompok dan Pergeseran Kelompok
Dua produk dalam pengambilan keputusan kelompok yang berpotensial untuk mempengaruhi kemampuan kelompok untuk menilai alternatif secara objektif dan hingga mencapai solusi yang bermutu tinggi.
Pertama, disebut pemikiran kelompok, terkait dengan norma. Ini menggambarkan situasi yang mana tekanan kelompok atas kepatuhan mencegah kelompok dari secara kritikal menilai pandangan yang tidak biasa, minoritas, atau tidak populer.
Fenomena kedua adalah pergeseran kelompok, yang mana menggambarkan cara para anggota kelompok cenderung untuk melebih-lebihkan posisi awal yang mereka pegang ketika membahas suatu rangkaian alternatif tertentu dan sampai pada suatu solusi.
  • Gejala pemikiran kelompok :
  1. Para anggota merasionalisasikan setiap perlawanan atas asumsi yang telah mereka buat. Tidak peduli seberapa kuatnya bukti akan bertentangan dengan asumsi dasar mereka, mereka akan berperilaku sehingga dapat memperkuat mereka.
  2. Para anggota menerapkan tekanan secara langsung pada mereka yang sesaat mengekspresikan keraguan mengenai beberapa pandangan yang dibagikan kelompok, atau siapa yang mempertanyakan keabsahan argumen yang mendukung alternatif yang disukai mayoritas.
  3. Para anggota yang memiliki sudut pandang yang meragukan atau berbeda yang berusaha untuk menghindari menyimpang dari apa yang terlihat merupakan hasil konsesus kelompok dengan berdiam diri mengenai kesangsian dan bahkan meminimalkan pentingnya keraguan mereka pada diri mereka sendiri.
  4. Terdapat suatu ilusi kebulatan suara. Jika seseorang tidak berbicara, diasumsikan bahwa dia telah patuh sepenuhnya.
-          Pergeseran Kelompok atau Polarisasi Kelompok
Pergeseran yang mengarah pada polarisasi telah menghasilkan beberapa penjelasan. Misalnya, telah diperdebatkan bahwa pembahasan membuat para anggota menjadi lebih nyaman satu sama lain, dan oleh karenanya, lebih bersedia untuk mengekspresikan versi ekstrim dari posisi awal mereka. Argumen lainnya adalah bahwa kelompok memencarkan tanggung jawab.
  1. Teknik-Tenik dalam Pengambilan Keputusan Kelompok
Bentuk yang paling umum dari pengambilan keputusan kelompok terjadi dalam kelompok yang berinteraksi. Para anggota saling bertemu berhadapan  muka dan bergantung pada interaksi verbal dan nonverbal untuk berkomunikasi. Tetapi, kelompok yang berinteraksi sering kali memeriksa diri mereka sendiri dan menekan para anggota individu untuk memgarah pada kepatuhan opini.
Sumbang pendapat dapat mengatasi tekanan atas kepatuhan yang mengurangi kreativitas dengan mendorong beberapa dan semua alternatif selain menahan kritikan-kritikan. Dalam sesi sumbang pendapat, setengah lusin dan lusinan orang duduk mengelilingi meja. Pemimpin kelompok menyatakan bahwa permasalahan telah jelas sehingga seluruh partisipan memahaminya. Para anggota kemudian bebas mengungkapkan sebanyak mungki  alternatif semampu mereka dalam suatu lamanya waktu yang ditentukan. Untuk mendorong para anggota “berpikir di luar kotak”, tidak boleh ada kritikan, seluruh gagasan meskipun saran-saran yang sangat aneh, ditampung dalam pembahasan dan dianalisis selanjutnya.
Secara spesifik, permasalahan dihadirkan dan kemudian kelompok akan mengambil langkah-langkah berikut.
  • Sebelum pembahasan dilakukan, setiap anggota secara independen menulis gagasan-gagasan atas permasalahan.
  • Setelah periode hening, masing-masing anggota akan menghadirkan salah satu gagasan kepda kelompok. Tidak ada pembahasan yang dilakukan hingga seluruh gagasan telah dihadirkan dan dicatat.
  • Kelompok membahas gagasan-gagasan untuk menjernihkan dan mengevaluasinya.
  • Masing-masing anggota kelompok dengan diam dan independen memeringkatkan sesuai urutan gagasan. Gagasan dengan peringkat keseluruhan yang tertinggi akan menentukan keputusan final.
Kelebihan utama dari teknik kelompok nominal adalah bahwa teknik ini memungkinkan bagi kelompok untuk bertemu secara formal tetapi tidak menghambat pemikiran yang independen.

BAB III
ANALISIS KASUS
3.1 Kasus :
Ada seorang siswa bernama Puspa,mengikuti sebuah grup di dunia maya yang bertujuan untuk menyatukan anak-anak dance yang ada di dunia. Akhirnya terjadi hilangnya kontak dan komunikasi dari salahsatu anggota dari grup tersebut yang berasal dari luar negeri.

3.2 Analisis Kasus
Kasus tersebut termasuk kedalam kelompok informal. Yaitu kelompok kepentingan(Interest group) yaitu bentuk kelompok karena sama-sama menyukai dance. Kelompok ini tidak terikat. Jadi,sebenarnya anggota dapat masuk atau keluar dari grup tersebut. Dari contoh kasus tersebut jika tidak ingin terjadi loss contact antara anggota kelompok seharusnya saat ada yang ingin masuk kedalam grup lebih baik di data biodata/profilnya

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Perilaku kelompok merupakan respon-respon anggota kelompok terhadap struktur sosial kelompok dan norma yang di adopsinya. Jadi ketika sebuah kelompok memasuki dunia organisasi maka karakteristik yang di bawanya adalah kemampuan, kepercayaan pribadi, penghargaan kebutuhan, dan pengalaman masa lalunhya. Banyak teori yang mengembangkan suatu anggapan mengenai awal mula terbentuknya kelompok. Mulai dari anggapan adanya kedekatan ruang kerja maupun tempat tinggal mereka, sampai kepada alasan-alasan praktis.
Di dalam suatu kelompok yang sebenarnya, para anggota mempertimbangkan diri mereka sendiri dan bergantung satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan umum, dan mereka saling berhubungan satu dengan yang lain secara teratur untuk mengejar tujuannya atas dukungan dalam suatu periode waktu.

4.2 Saran
Sebaiknya setiap anggota kelompok yang masuk bergabung dengan sebuah organisasi baik itu organisasi besar maupun kecil haruslah bisa beradapsi dengan keadaan organisasi tersebut dan hanhya mempertahankan prilaku yang baik saja sewaktu berada dalam kelompok ke dalam organisasi

Popular Post

Makalah Pancasila Bersifat Hierarkis dan Berbentuk Piramidal

Makalah Pancasila Susunan Pancasila Bersifat Hierarkis dan Berbentuk Piramidal KATA PENGANTAR Puji syukur marilah kita panjatkan ...