iklan ditengah

Kamis, 16 Juli 2020

Makalah Stabilitas Ekonomi atau Inflasi


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Inflasi di dunia ekonomi tentunya sangat memberatkan masyarakat. Hal ini dikarenakan inflasi dapat mengakibatkan lemahnya efisiensi dan produktivitas ekonomi. Keberadaan permasalahan inflasi dan tidak stabilnya ekonomi dari waktu ke waktu senantiasa menjadi perhatian pemerintah. Karena inflasi sangat penting dalam mempengaruhi harga-harga suatu barang atau jasa yang menjadi kebutuhan masyarakat, baik kebutuhan sandang maupun pangan.
Inflasi yang terjadi disuatu negara tidak selalu stabil, terkadang mengalami kenaikan atau penurunan (rendah). Sehingga hal tersebut mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap suatu barang atau jasa. Sementara itu, keinginan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya semakin meningkat, akan tetapi pendapatan yang dihasilkan oleh masyarakat tetap (tidak bertambah).
Perekonomian yang tidak stabil menimbulkan biaya yang tinggi bagi perekonomian dan masyarakat. Ketidakstabilan tersebut akan menyulitkan masyarakat untuk menyusun rencana ke depan, khususnya dalam jangka lebih panjang yang dibutuhkan bagi investasi. Tingkat investasi yang rendah akan menyebabkan penurunan potensi pertumbuhan ekonomi panjang. Adanya fluktuasi yang tinggi dalam pertumbuhan produksi yang bisa mengurangi tingkat keahlian tenaga kerja yang lama menganggur. Inflasi yang tinggi dan fluktuasi yang tinggi menimbulkan biaya yang sangat besar bagi masyarakat. Beban terberat akibat inflasi yang tinggi akan dirasakan oleh penduduk miskin yang mengalami penurunan daya beli. Sehingga inflasi yang berfluktuasi tinggi menyulitkan pembedaan harga yang disebabkan oleh perubahan permintaan dan penawaran barang atau jasa dari kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh permintaan yang berlebih.
Dalam hal ini stabilitas ekonomi makro merupakan hal yang penting bagi kelancaran dan pencapaian sasaran pembangunan nasional, sehingga pemerintah bertekad untuk terus menciptakan stabilitas ekonomi makro yang stabil.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Stabilisasi Ekonomi atau Inflasi?
2.      Apa saja Ciri – Ciri Negara yang mengalami Inflasi?
3.      Apa saja Macam – Macam Inflasi?
4.      Bagaimana Penetapan Target Inflasi?
5.      Bagaimana Keadaan Inflasi pada bulan Desember 2017?
6.      Bagaiman Dampak dengan adanya Inflasi?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari Stabilisasi Ekonomi atau Inflasi
2.      Untuk mengetahui Ciri – Ciri Negara yang mengalami Inflasi
3.      Untuk mengetahui Macam – Macam Inflasi
4.      Untuk mengetahui Penetapan Target Inflasi
5.      Untuk mengetahui Keadaan Inflasi pada Tahun 2017
6.      Untuk mengetahui Dampak Inflasi

D.    Manfaat
1.      Menjadi  bertambahnya wawasan dari materi Ekonomi Makro.
2.      Kita bisa mengetahui inflasi yang terjadi dari tahun ke tahun dengan jumlah yang berbeda.
3.      Kita dapat mengetahui hal-hal yang menjadi acuan terjadinya inflasi dan stabilitas ekonomi.











BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Stabilisasi Ekonomi atau Inflasi
                   I.            Stabilisasi Ekonomi
Stabilitas ekonomi merupakan faktor fundamental untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable economic growth). Stabilitas ekonomi juga merupakan prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan yang tinggi dan peningkatan kualitas pertumbuhan. Upaya untuk menjaga stabilitas ekonomi tersebut dilakukan melalui langkah-langkah dalam mengendalikan laju inflasi, stabilitas nilai tukar, serta tingkat bunga yang rendah. Upaya tersebut menghadapi tantangan yang berat, seperti tingginya harga beberapa bahan makanan dan harga minyak internasional.
Stabilitas perekonomian atau inflasi sangat penting untuk memberikan kepastian bagi para pelaku ekonomi. Stabilitas ekonomi makro dicapai ketika hubungan variabel ekonomi makro yang utama berada dalam keseimbangan, misalnya antara permintaan domestik dengan pengeluaran nasional, neraca pembayaran, penerimaan dan pengeluaran fiskal, serta tabungan, dan investasi. Hubungan tersebut tidak selalu harus dalam keseimbangan yang sangat tepat. Ketidakseimbangan fiskal dan neraca pembayaran tetap sejalan dengan stabilitas ekonomi, asalkan hal tersebut harus dibiayai secara berkesinambungan.
Perekonomian yang tidak stabil menimbulkan biaya yang tinggi bagi perekonomian dan masyarakat. Ketidakstabilan tersebut akan menyulitkan masyarakat untuk menyusun rencana ke depan, khususnya dalam jangka lebih panjang yang dibutuhkan bagi investasi. Tingkat investasi yang rendah akan menyebabkan penurunan potensi pertumbuhan ekonomi panjang. Adanya fluktuasi yang tinggi dalam pertumbuhan produksi yang bisa mengurangi tingkat keahlian tenaga kerja yang lama menganggur. Inflasi yang tinggi dan fluktuasi yang tinggi menimbulkan biaya yang sangat besar bagi masyarakat. Beban terberat akibat inflasi yang tinggi akan dirasakan oleh penduduk miskin yang mengalami penurunan daya beli. Sehingga inflasi yang berfluktuasi tinggi menyulitkan pembedaan harga yang disebabkan oleh perubahan permintaan dan penawaran barang atau jasa dari kenaikan harga-harga yang disebabkan oleh permintaan yang berlebih.

                II.            Inflasi
Inflasi merupakan kondisi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus (continue). Umum berarti kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu jenis barang saja, tetapi kenaikan harga itu meliputi kelompok barang yang dikonsumsi oleh masyarakat, terlebih lagi kenaikan itu akan mempengaruhi harga barang lain di pasar. Terus menerus berarti bahwa kenaikan harga terjadi tidak sesaat saja, misalnya kenaikan harga barang menjelang hari raya. Kenaikan harga pada kondisi tertentu tidak menjadi permasalahan karena harga akan kembali normal.
Penyebab terjadinya inflasi adalah besarnya permintaan terhadap barang (berlebihnya likuiditas atau uang sebagai alat tukar) sementara produk serta distribusinya kurang. Contoh terjadinya inflasi di Indonesia adalah turunnya nilai mata uang rupiah terhadap dollar, naiknya harga BBM disebabkan boomingnya minyak, aspek spekulasi di sektor industri. Selama ini tinggi rendahnya inflasi tergantung pada kemampuan Bank Sentral dalam mengatasi tingkat inflasi di Indonesia.

B.     Ciri – Ciri Negara yang Mengalami Inflasi
1.      Harga-harga barang pada umumnya dalam keadaan naik terus-menerus.
2.      Uang yang beredar melebihi kebutuhan.
3.      Barang relatif sedikit.
4.      Nilai uang (daya beli uang) turun pencegahan inflasi telah lama menjadi salah satu tujuan utama dari kebijaksanaan ekonomi makro pemerintahan dan bank sentral di negara manapun.

C.    Macam – Macam Inflasi
Inflasi yang terjadi disuatu negara tentu jenisnya berbeda-beda. Hal ini tergantung dari penyebabnya. Adapun macam-macam inflasi terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai berikut.
1.      Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahan
§  Inflasi ringan, yaitu inflasi yang besarnya kurang dari 10% per tahun.
§  Inflasi sedang, yaitu inflasi yang besarnya antara 10% - 30% per tahun.
§  Inflasi berat, yaitu inflasi yang besarnya antara 30% - 100% per tahun.
§  Inflasi sangat berat atau hiperinflasi, yaitu inflasi yang besarnya diatas 100% per tahun.

2.      Inflasi Berdasarkan Penyebab
§  Inflasi Tarikan Permintaan (Demand Pull Inflation), yaitu inflasi yang terjadi karena kelebihan permintaan atas barang dan jasa. Kelebihan permintaan yang tidak dapat dipenuhi produsen tersebut tentu akan mendorong kenaikan harga-harga, karena permintaan lebih besar daripada penawaran.
§  Inflasi Dorongan Biaya Produksi (Cost Push Inflation), yaitu inflasi yang terjadi karena kenaikan biaya produksi. Biaya produksi yang naik akan mendorong naiknya harga-harga barang dan jasa. Selain itu, kenaikan biaya produksi akan mengakibatkan turunnya jumlah produksi sehingga penawaran menjadi berkurang, jika penawaran berkurang sedangkan permintaan tetap, maka akan mengakibatkan harga mengalami kenaikan.
§  Inflasi Lain-lain, yaitu inflasi yang terjadi karena berbagai penyebab selain inflasi tarikan permintaan dan inflasi dorongan biaya produksi.

3.      Inflasi Berdasarkan Asal Terjadinya
§  Inflasi dari Dalam Negeri (Domestic Inflation), yaitu inflasi yang hanya disebabkan oleh faktor-faktor penyebab dari dalam negeri. Faktor-faktor penyebab tersebut antara lain, adanya pencetakan uang baru untuk menutup anggaran negara yang defisit karena naiknya permintaan masyarakat dan karena kenaikan biaya produksi di dalam negeri (seperti naiknya upah buruh).
§  Inflasi Dari Luar Negeri (Imported Inflation), yaitu inflasi yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab dari luar negeri. Inflasi ini timbul karena adanya perdagangan antarnegara. Jika suatu negara mengalami inflasi, maka inflasi tersebut dapat menular ke negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang dengannya. Contohnya, negara kita mengimpor faktor-faktor produksi yang berupa bahan baku dan mesin serta mengimpor barang-barang jadi seperti motor, mesin cuci dan kipas angin dari Jepang. Maka jika di Jepang harga faktor-faktor produksi dan barang jadi tersebut naik (inflasi), otomatis negara kita juga akan mengalami inflasi. Sebab barang-barang yang kita buat dengan faktor-faktor produksi dari Jepang tentu akan dijual lebih mahal, dan barang-barang jadi dari Jepang pun dijual lebih mahal.
D.    Penetapan Target Inflasi
Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus di capai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan undang-undang mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.93/PMK.011/2014 tentang Sasaran Inflasi taun 2016, 2017, dan 2018 tanggal 21 Mei 2014 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2016 – 2018, masing-masing sebesar 4% dan 3,5% masing-masing dengan deviasi +1%.
Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya ke depan sehingga tingkat inflasi dapat ditutunkan pada tingkat yang rendah dan stabail. Pemerintah dan Bank Indonesia akan senantiasa berkomitmen untuk mencapai sasaran inflasi yang di tetapkan tersebut melalui koordinasi kebijakan yang konsisten dengan sasaran inflasi tersebut. Salah satu upaya pengendalian iflasi menuju inflasi yang rendah dan stabil adalah dengan membentuk dan mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat agar mengacu pada sasaran inflasi yang telah ditetapkan.

v  Tabel Perbandingan Target Inflasi dan Aktual Inflasi
Tahun
Target Inflasi
Inflasi Aktual (%,yoy)
2001
4% - 6%
12,55
2002
9% - 10%
10,03
2003
9 + 1%
5,06
2004
5,51 + 1%
6,40
2005
6 + 1%
17,11
2006
8 + 1%
6,60
2007
6 +1%
6,59
2008
5 + 1%
11,06
2009
4,5 + 1%
2,78
2010
5 + 1%
6,96
2011
5 + 1%
3,79
2012
4,5 + 1%
4,30
2013
4,5 + 1%
8,38
2014
4,5 + 1%
8,36
2015
4 + 1%
3,35
2016
4 + 1%
3,02
2107
4 + 1%

2018
3,5 + 1%



E.     Keadaan Inflasi pada Tahun 2017
a.      Keadaan Inflasi pada Bulan Juli 2017
Inflasi pada bulan Juli 2017 terkendali di angka 4,0 + 1%. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2017 tercatat sebesar 0,22% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi pasca lebaran 3 tahun terakhir sebesar 0,28% (mtm). Perkembangan ini merupakan kontribusi positif berbagai kebijakan pemerintah dan koordinasi yang kuat dengan Bank Indonesia (BI).  Berdasarkan komponen, inflasi kelompok administered prices dan kelompok volatile food penyumbang dominan terhadap inflasi terkendali. Dengan perkembangn tersebut, inflasi IHK sampai dengan bulan Juli tercatat 2,60% (ytd) atau secara tahunan mencapai 3,88% (yoy).
Dikutip dari situs Bank Indonesia, inflasi administered prices tercatat sebesar 0,07% (mtm) menurun dibandingkan bulan lalu sebesar 2,10% (mtm). Misalnya tarif angkutan antar kota dan kereta api tercatat mengalami deflasi. Sementara itu, tarif angkutan udara masih menyumbang inflasi seiring dengan masih berlanjutnya liburan sekolah. Secara tahunan, inflasi administered prices mencapai sebesar 9,27% (yoy). Inflasi volatile food tercatat sebesar 0,17% (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan lalu sebesar 0,65% (mtm). Penurunan inflasi pada periode ini relatif sama dengan rata-rata periode pasca lebaran dalam 3 tahun terakhir yaitu 0,16% (mtm). Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat rendah, yaitu 1,13% (yoy).

b.      Keadaan Inflasi pada Bulan Desember 2017
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Desember 2017 masih aman, Kemenkeu Bank Indonesia (BI) merilis informasi inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Desember 2017 yang tercatat sebesar 0,71% (mtm) dan secara keseluruhan tahun 2017 mencapai 3,61% (yoy). Angka tersebut berada dalam kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan yaitu sebesar 4,1% (yoy). Dikutip dari situs BI, terkendalinya inflasi 2017 didorong oleh rendahnya inflasi inti yang tercatat 2,95% (yoy), sejalan dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi. Rendahnya inflasi (Volatile Food) yang tercatat 0,71% (yoy), terjaganya pasokan dan distribusi bahan pangan serta terkendalinya dampak kenaikan berbagai tarif dalam inflasi (Administered Prices) yang tercatat 8,70% (yoy).
Disisi lain, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2017 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (0,20%, mtm) sesuai dengan pola musimannya. Inflasi Desember 2017 lebih rendah dibanding dengan rata-rata inflasi pada bulan Desember tiga tahun terakhir sebesar 1,28% (mtm). Berdasarkan komponen tersebut, dengan meningkatnya inflasi bulan ini terutama dipengaruhi oleh inflasi kelompok rendahnya inflasi (Volatile Food) dan kelompok kenaikan berbagai tarif dalam inflasi (Administered Prices) ditengah rendahnya inflasi inti. Inflasi inti tercatat sebesar 0,13% (mtm), sama dengan bulan lalu, perkembangan tersebut sejalan dengan terjangkarnya ekspektasi inflasi, masih rendahynya permintaan domestik, nilai tukar yang stabil dan rendahnya harga global.

F.     Dampak Inflasi
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif. Inflasi dikatakan berdampak positif apabila inflasi tersebut ringan, karena dapat mendorong perekonomian menjadi lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung, dan mengadakan investasi. Sedangkan inflasi dikatakan berdampak negatif apabila inflasi tersebut parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu atau lemah. Orang menjadi tidak bersemangat lagi untuk bekerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta, serta kaum buruh pun akan merasa keberatan dalam menanggung dan mengimbangi harga, sehingga mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi diatas bunga, nilai uang tetap saja mengalami penurunan. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidaksabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan serta kesejahteraan masyarakat.
v  Dampak Inflasi terhadap Perekonomian
Secara garis besar terdapat beberapa dampak inflasi terhadap perekonomian, yaitu:
1.      Terhambatnya pertumbuhan ekonomi negara, karena berkurangnya investasi dan berkurangnya minat menabung.
2.      Masyarakat yang berpenghasilan rendah tidak dapat menjangkau harga barang, karena harga barang mengalami kenaikan.
3.      Jika terdapat kebijakan untuk mengurangi inflasi, maka akan terjadi pengangguran, karena pemerintah berusaha untuk menekan harga.
4.      Masyarakat akan cenderung untuk menyimpan barang daripada menyimpan uang.
5.      Nilai mata uang turun, karena adanya kenaikan harga barang.

v  Contoh Inflasi
Seorang pensiun Pegawai Negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun di tahun 2003 atau 13 tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti pengusaha, dan pengusaha tersebut tidak merasa dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Stabilitas ekonomi merupakan faktor fundamental untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainable economic growth). Sedangkan inflasi adalah kondisi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus (continue). Stabilisasi ekonomi dan inflasi saling berkaitan satu sama lain tetapi mempunyai arti dan pemahaman yang berbeda. Kestabilan suatu negara dapat dilihat dari keaadaan inflasi suatu negara tersebut. Inflasi juga memiliki ciri dan macam-macamnya yang dapat diketahui dari segi tingkat keparahan, penyebab, dan asal terjadinya.
Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus di capai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan undang-undang mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh pemerintah. Berdasarkan PMK No.93/PMK.011/2014 tentang Sasaran Inflasi taun 2016, 2017, dan 2018 tanggal 21 Mei 2014 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2016 – 2018, masing-masing sebesar 4% dan 3,5% masing-masing dengan deviasi +1%.
Dari data yang kami peroleh keadaan inflasi pada bulan Juli 2017 masih terkendali. Indeks Harga Konsumennya (IHK) tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi pasca lebaran 3 tahun terakhir. Begitupun dengan bulan Desember 2017 Indeks Harga Konsumen (IHK) tergolong masih aman jika dibandingkan dengan rata-rata inflasi Desember 3 tahun terakhir. Dampak dari adanya inflasi yaitu Masyarakat yang berpenghasilan rendah tidak dapat menjangkau harga barang, karena harga barang mengalami kenaikan.

B.     Saran
Sebelum kami mengakhiri makalah ini, terlebih dahulu memberikan saran-saran, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Adapun saran yang dapat kami tulis adalah sebagai berikut.
1.      Pergunakanlah ilmu ekonomi makro dalam melaksanakan perilaku ekonomi.
2.      Jadikan pengetahuan sebagai sumber untuk mencapai kestabilan ekonomi dimasa yang akan datang.
3.      Selalu bisa memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

·         https://kemenkeu.go.id
·         https://bi.go.id
·         https://www.bappenas.go.id
·         http://economy.okezone.com






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Post

Makalah Pancasila Bersifat Hierarkis dan Berbentuk Piramidal

Makalah Pancasila Susunan Pancasila Bersifat Hierarkis dan Berbentuk Piramidal KATA PENGANTAR Puji syukur marilah kita panjatkan ...